Friday, May 16, 2014



IBU HAMIL DENGAN
ANEMIA
by : ifana Safitri
 


I.               PENGERTIAN

          Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, anemia ini termasuk jenis anemia yang pengobatannya relative mudah.
          Anemia lebih sering terjadi saat hamil disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat – zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan –perubahan dalam darah (pengenceran darah) dan sum –sum tulang.
          Anemia pada kehamilan merupakan masalah nasional karena mencerminkan nilai kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat, dan pengaruhnya pun sangat besar terhadap sumber daya manusianya. Anemia pada saat kehamilan disebut “potential danger to mother and child” potensial membahayakan ibu dan anak). Karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehataan. Pada Pengamatan  lebih lanjut menunjukan bahwa zat besi yang dapat di atasi melalui pemberian zat besi secara teratur dan peningkatan gizi, khususnya pada daerah pedesaan, karena seringnya dijumpai bumi dengan malnutrisi, persalinan dengan jarak berdekatan, dan  bumi yang dengan pendidikan dan tingkat sosial konomi darah.

              (ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga Berencana; Manuaba; 1998)



II.            Diagonosa Pada Kehamilan

Penegakan DX pada kehamilan dapat dilakukan dengan anamnesa, pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing–pusing, mata berkunang –kunang, dan muntah lebih sering dan hebat pada kehamilan muda.
          Sedangkan pemeriksaan HB dan pengawasan HB dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan alat Hb sahli. Hasil pemeriksaan HB dengan dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut :
          HB 11 gr %                  Tidak anemia
          9 – 10 gr %                   Anemia ringan
          7 – 8 gr %                     Anemia sedang
          < 7 gr %                        Anemia berat
          ( Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana ; 1998)
          Pemeriksaan darah pada Bumil dilakukan minimal 2 x selama kehamilan, yaitu pada TM I dan TM III. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar Ibu hamil mengalami anemia maka dari itu dilakukan pemberian Preparat Fe sebanyak 90 tablet pada Ibu – ibu di Puskesmas maupun pada bidan praktek swasta.

III.         Bentuk – bentuk Anemia 

          Banyak faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan darah adalah sebagai berikut :
a.       komponen (bahan) yang berasal dari makanan terdiri dari :
1.  Protein, glukosa, lemak
2.   Vitamin B12, asam falat, Vit C
3.   Elemen dasar : Fe, Ion Cu, Zink
         

b.      Sumber    sumber  tulang
Kemampuan reabsorpsi usus terhadap bahan yang diperlukan
c.       Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari. Sel – sel darah merah yang sudah tua dihancurkan kembali menjadi bahan baku untuk membentuk sel darah yang baru.
d.      Terjadinya perdarahan yang kronik (menahun)
1. Menstruasi
2.  Penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita seperti mioma uteri, Polip Serviks, penyakit darah.


Berdasarkan atas faktor – faktor diatas maka anemia dapat digolongkan menjadi 
1.      Anemia defisiensi besi, oleh karena tubuh kekurangan zat besi
2.      Anemia Megaloblastik, oleh karena kekurangan Vit B12
3.      Anemia Hemolitik, oleh karena pemecahan sel – sel darah lebih cepat dari pembentukannya.
4.      Anemia Hipoplastik, oleh karena gangguan pembentukan sel – sel darah.
                                                                                           (Ilmu Kebidanan 1994)
IV.      Pengaruh Anemia Pada Kehamilan dan Janin

1.      Pengaruh anemia terhadap Kehamilan
a. Bahaya selama kehamilan
1.      Terjadinya Abortus
2.      Persalinan Prematur
3.      Hambatan terhadap tumbuh kembang janin dalam rahim
4.      Mudah terjadinya Infeksi
5.      Ancaman Dekompensasi Cordis (jika HB < 6 gr)
6.      Mola Hidatidosa
7.      Hiperemesis Gravidarum
8.      Perdarahan Antepartum
9.      KPD ( Ketuban  Pecah  Dini )
b. Bahaya saat persalinan
1.  Gangguan his kekuatan mengejan
2.  Pada kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
3.  Pada kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan
     dan sering memerlukan tindakan dan operasi kebidanan.
4. Pada kala III (Uri) dapat diikuti Retencio Placenta, PPH
    karena Atonnia Uteri
5. Pada kala IV dapat terjadi pendarahan Post Partum Sekunder
    dan Atonia Uteri
                       (Ilmu Kebidanan; Kandungan dan Keluarga Berencana; 1998)
c.  Bahaya pada saat Nifas
1. Terjadi Subinvolusi Uteri yang dapat  menimbulkan  perdarahan
2. Memudahkan infeksi Puerpurium
3. Berkurangnya  pengeluaran ASI
4. Dapat terjadi DC mendadak setelah bersalin
5. Memudahkan terjadi Infeksi mamae
6. Terjadinya Anemia kala nifas
2.      Pengaruh Anemia Terhadap Janin
Meskipun janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari Ibunya tetapi jika anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.
Pengaruh – pengaruhnya terhadap janin diantaranya :
a.    Abortus
b.   Kematian Interauterin
c.    Persalinan Prematuritas tinggi
d.   BBLR
e.    Kelahiran dengan anemia
f.    Terjadi cacat kongenital
g.   Bayi mudah terjadi Infeksi sampai pada kematian
h.   Intelegensi yang rendah                                                                                                          ( Ilmu Kebidanan 1994 )

V.              Kebutuhan Zat Besi Pada Wanita Hamil
          Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari pada laki – laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak kurang lebih 50 cc – 80 cc setiap bulan pada wanita dan kehamilan, zat besi yang berkurang sebesar 30 – 40 mg.
          Pada saat kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk menambahkan sel darah merah dan membentuk sel darah merah pada janin dan placenta. Semakin sering wanita hamil dan melahirkan maka akan semakin banyak wanita itu kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis.
          Gambaran banyaknya kebutuhan zat besi setiap kehamilan :
          Meningkatkan sel darah Ibu     500 mg Fe
          Terdapat dalam placenta          300 mg Fe
          Untuk darah janin                     100 mg Fe +
          Jumlah                                     900 mg Fe
          Jika persediaan Fe minimal, maka disetiap kehamilan akan menguras Fe dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada setiap kehamilan relatif mengalami anemia dikarenakan darah Ibu mengalami Hemodilusi (pengenceran) dan meningkatkan volume 38 % - 40 % yang puncaknya pada kehamilan 32 – 34 mgu. Jumlah pertambahan sel darah 18 % - 30 % dan HB sekitar 19 %. Bila HB sebelum hamil sekitar 11 gr maka dengan terjadinya Hemodilusi akan mengakibatkan anemia fisiologi, dan HB Ibu akan turun menjadi kurang lebih 9,5 – 10 gr %.
          Setelah persalinan dengan lahirnya Bayi dan placenta maka akan kehilangan zat besi kurang lebih 900 mg dari perdarahan yang dialami Ibu saat persalinan. Saat laktasi Ibu memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI unntuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia laktasi tidak dapat terlaksana dengan baik maka dari itu sbisa mungkin ibu tidak anemis.
           (Ilmu Kebidanan Penyakit andungan dan Keluarga Berencana ; Manuaba;1998)


VI.         Pengobatan Anemia dalam Kehamilan

          Terapi anemia difisiensi besi adalah dengan preparat besi oral atau Perenteral. Contoh terapi oral adalah dengan pemberian preparat besi, diantaranya terosulfat, feroglukonal atau Na – Fero bisitrat.
          Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar HB sebanyak 7 gr % per buah. Efek samping pada traktus gastrointestinal relative kecil pada pemberian preparat Na. fero bisitrat dibandingkan dengan Fero Sulfat.
          Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 dengan asam folat untuk poofilaksis anemia .
          Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 Mg lebih cepat yaitu 29 %. Pemberian parenteral ini memiliki indikasi : Intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat dan kepatuhan yang buruk, efek samping utama ialah x Alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis.

                                                            (Buku Maternal & Neonatal Tahun 2005)

No comments:

Post a Comment